Download

Rabu, 18 April 2012

Profil Desa Dander


Dander merupakan sebuah nama Desa dan nama Kecamatan yang terletak ± 10 km di selatan kota Kabupaten Bojonegoro pada jalur ruas jalan provinsi Bojonegoro-Temayang-Nganjuk. Pada GPS (Global Positioning System), Sistem Pencari Posisi Global, Desa Dander terletak pada garis Lintang (latitude) : -7°15'0.041"S dan garis Bujur (Longitude) : 111°50'47.299"E.
Di Desa Dander terdapat lokasi wisata alam populer di Bojonegoro yang dikenal dengan nama Wana Tirta merupakan objek wisata yang berupa hutan wisata alam yang cukup luas sering digunakan aktivitas masyarakat Bojonegoro maupun para aktivis luar daerah untuk kegiatan perkemahan pramuka, dan arena rekreasi kolam renang yang mana air kolam renang tersebut diambil dari sumber mata air disekitar kolam renang yang selalu mengalir. Ada beberapa tempat sumber mata air baik besar maupun sumber yang kecil-kecil yang airnya sangat jernih dan sejuk. Bagi masyarakat sekitar wana tirta sering menggunakan sumber mata air tersebut untuk kebutuhan mencuci pakaian atau pun mandi.
Untuk menuju ke sumber api abadi yang dikenal dengan kayangan api yang merupakan sumber api terbesar se Asia Tenggara tesebut juga dapat ditempuh dari desa dander ke arah barat ± 5 km menuju ke arah kecamatan Ngasem. Kayangan api tersebut juga dipakai sebagai tempat pengambilan Api Pon XV Jawa Timur tahun 2000.
Pengembangan pembangunan Bojonegoro dapat kita lihat di wilayah Kecamatan Dander. Cukup banyak para investor yang melirik untuk menanamkan modalnya di area Bojonegoro ke selatan. Mulai perumahan - perumahan, perdagangan sampai kepada sarana pelayanan kesehatan.

Sejarah Desa Dander

Pada saat Zaman Hindu datanglah pengembara yang bernama Kaki dan nyai Rembi saat itu beliau bertempat tinggal dibawah Ringin Be yang berdekatan dengan sumber air yang saat ini menjadi Pemandian Tirtawana Dander. Untuk menghidupi keluarganya beliau babat hutan pandan yang sangat luas atau dalam bahasa jawa disebut panDAN anDER. Oleh karena Kaki dan Nyai Rembe berdomisili di Ringin Be, maka lambat laun dijuluki BEDANDER asal dari kata Be, kata panDAN dan kata anDER menjadi BEDANDER.
Pada zaman kerajaan Majapahit tejadi perang PAREGREG atau pemberontakan Semi dan Kuti sekitar abad VIII lokasi tersebut sudah bernama BeDander dan pernah digunakan untuk singgah/ sanggrah raja Majapahit pada masa pemerintahan raja Jayanegara bersama Patih Gajah Mada. Semakin banyaknya penghuni dan bertambah pengikut raja Jayanegara yang tertinggal maka sebutan BeDander menjadi DANDER, disebabkan adanya istilah bahasa Jawa sebutan dicekak/disingkat BEDANDER menjadi DANDER.
Pada abad XVIII dipilihlah seorang yang ditokohkan/ petinggi sebagai pemimpin diwilayah tersebut. Adapun petinggi/ Lurah/ Kepala Desa yang pernah menjabat hingga sekarang adalah sebagai berikut :

Pertama
: Mbah Bindeng dengan masa jabatan seumur hidup
Kedua
: Kardiman dengan masa jabatan seumur hidup
Ketiga
: Parto Redjo dengan masa jabatan seumur hidup
Keempat
: Redjo Diwirjo dengan masa jabatan seumur hidup s.d. tahun 1970
Kelima
: Koesmadi dengan masa jabatan : 1971 s.d. 2008
Keenam
: Juprianto dengan masa jabatan : 2008 s.d. 2014
Ketujuh
: Kiswoyo yang dilantik 30 April 2014 s.d. sekarang


Demografi
Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Desa tahun 2010, jumlah penduduk Desa Dander adalah terdiri dari 2.067 KK, dengan jumlah total 7.652 jiwa, dengan rincian 4.110 laki-laki dan 4.225 perempuan sebagaimana tertera. dalam Tabel 4.

Tabel 1
Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia

No
Usia
Laki-laki
perempuan
Jumlah
Prosentase
1
0-4


1289 orang
16,16%
2
5-9


1194 orang
14,97%
3
10-14


407 orang
5,10%
4
15-19


507 orang
6,36%
5
20-24


751 orang
9,42%
6
25-29


759 orang
9,52%
7
30-34


408 orang
5,12%
8
35-39


414 orang
5,19%
9
40-44


446 orang
5,59%
10
45-49


517 orang
6,48%
11
50-54


499 orang
6,26%
12
55-58


388 orang
4,86%
13
>59


397 orang
4,98%
Jumlah


7.976 orang
100,00%

Dari data di atas nampak bahwa penduduk usia produktif pada usia 20-49 tahun Desa Dander sekitar 3.295 atau hampir 41,3 %. Hal ini merupakan modal berharga bagi pengadaan tenaga produktif dan SDM.
Tingkat kemiskinan di Desa Dander termasuk tinggi. Dari jumlah 2.135 KK di atas, sejumlah 630 KK tercatat sebagai Pra Sejahtera; 461 KK tercatat Keluarga Sejahtera I; 15 KK tercatat Keluarga Sejahtera II; 53 KK tercatat Keluarga Sejahtera III; 3 KK sebagai sejahtera III plus. Jika KK golongan Pra-sejahtera dan KK golongan I digolongkan sebagai KK golongan miskin, maka lebih 50 % KK Desa Dander adalah keluarga miskin.
Secara geografis Desa Dander terletak pada posisi 7°21'-7°31' Lintang Selatan dan 110°10'-111°40' Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 156 m diatas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS kabupaten Bojonegoro tahun 2004, selama tahun 2004 curah hujan di Desa Dander rata-rata mencapai 2.400 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember hingga mencapai 405,04 mm yang merupakan curah hujan tertinggi selama kurun waktu 2000-2008.
Secara administratif, Desa Dander terletak di wilayah Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Mojoranu, Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Karangsono. Di sisi Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bubulan, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan desa Growok.
Jarak tempuh Desa Dander ke ibu kota kecamatan adalah 1 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 5 menit. Sedangkan jarak tempuh ke ibu kota kabupaten adalah 17 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 0,45 jam.

Pendidikan
Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan tingkat SDM (Sumber Daya Manusia) yang dapat berpengaruh dalam jangka panjang pada peningkatan perekonomian. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan mendongkrak tingkat kecakapan masyarakat yang pada gilirannya akan mendorong tumbuhnya ketrampilan kewirausahaan dan lapangan kerja baru, sehingga akan membantu program pemerintah dalam mengentaskan pengangguran dan kemiskinan. Prosentase tinggkat pendidikan Desa Dander dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 2
Tamatan Sekolah Masyarakat

No
Keterangan
Jumlah
Persentase
1
Buta Huruf Usia 10 tahun ke atas
-
0
2
Usia Pra-Sekolah
2.351
29 %
3
Tidak Tamat SD
1.286
16 %
4
Tamat Sekolah SD
1.815
23 %
5
Tamat Sekolah SMP
1.765
22 %
6
Tamat Sekolah SMA
545
7 %
7
Tamat Sekolah PT/ Akademi
214
3 %
 Jumlah Total
5.325
100 %

Dari data di atas menunjukan bahwa mayoritas penduduk Desa Dander hanya mampu menyelesaikan sekolah di jenjang pendidikan wajib belajar sembilan tahun (SD dan SMP). Dalam hal kesediaan sumber daya manusia (SDM) yang memadahi dan mumpuni, keadaan ini merupakan tantangan tersendiri.
Rendahnya kualitas tingkat pendidikan di Desa Dander, tidak terlepas dari terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada, disamping tentu masalah ekonomi dan pandangan hidup masyarakat. Sarana pendidikan di Desa Dander baru tersedia di tingkat pendidikan dasar 9 tahun (SD dan SMP), sementara untuk pendidikan tingkat menengah ke atas berada di tempat lain yang relatif jauh.
Sebenarnya ada solusi yang bisa menjadi alternatif bagi persoalan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Desa Dander yaitu melalui pelatihan dan kursus. Namun sarana atau lembaga ini ternyata juga belum tersedia dengan baik di Desa Dander. Bahkan beberapa lembaga bimbingan belajar dan pelatihan yang pernah ada tidak bisa berkembang.

Kesehatan
Masalah pelayanan kesehatan adalah hak setiap warga masyarakat dan merupakan hal yang penting bagi peningkatan kualitas masyarakat kedepan. Masyarakat yang produktif harus didukung oleh kondisi kesehatan. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang terserang penyakit. Dari data yang ada menunjukkan adanya jumlah masyarakat yang terserang penyakit relatif tinggi. Adapun penyakit yang sering diderita antara lain infeksi pernapasan akut bagian atas, malaria, penyakit sistem otot dan jaringan pengikat. Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan yang sering dialami penduduk adalah penyakit yang bersifat cukup berat dan memiliki durasi lama bagi kesembuhannya, yang diantaranya disebabkan perubahan cuaca serta kondisi lingkungan yang kurang sehat. Ini tentu mengurangi daya produktifitas masyarakat Desa Dander secara umum.
Sedangkan data orang cacat mental dan fisik juga cukup tinggi jumlahnya. Tercatat penderita bibir sumbing berjumlah 3 orang, tuna wicara 7 orang, tuna rungu 7 orang, tuna netra 4 orang, dan lumpuh 8 orang. Data ini menunjukkan masih rendahnya kualitas hidup sehat di Desa Dander.
Hal yang perlu juga dipaparkan di sini adalah terkait keikutsertaan masyarakat dalam KB. Terkait hal ini peserta KB aktif tahun 2007 di Desa Dander berjumlah 1.449 pasangan usia subur. Sedangkan jumlah bayi yang diimunisasikan dengan Polio dan DPT-1 berjumlah 238 bayi. Tingkat partisipasi demikian ini relatif tinggi walaupun masih bisa dimaksimalkan mengingat cukup tersedianya fasilitas kesehatan berupa sebuah Puskesmas, dan Polindes di Desa Dander. Maka wajar jika ketersediaan fasilitas kesehatan yang relatif lengka ini berdampak pada kualitas kelahiran bagi bayi lahir. Dari 113 kasus bayi lahir pada tahun 2007, hanya 1 bayi yang tidak tertolong.
Hal yang perlu juga dipaparkan di sini adalah kualitas balita. Dalam hal ini, dari jumlah 583 balita di tahun 2007, masih terdapat 5 balita bergizi buruk, 35 balita bergizi kurang dan lainnya sedang dan baik. Hal inilah kiranya yang perlu ditingkatkan perhatiannya agar kualitas balita Desa Dander ke depan lebih baik.

Keadaan Sosial
Dengan adanya perubahan dinamika politik dan sistem politik di Indonesia yang lebih demokratis, memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk menerapkan suatu mekanisme politik yang dipandang lebih demokratis. Dalam konteks politik lokal Desa Dander, hal ini tergambar dalam pemilihan kepala desa dan pemilihan-pemilihan lain (pilleg, pilpres, pemillukada, dan pimilugub) yang juga melibatkan warga masyarakat desa secara umum.
Khusus untuk pemilihan kepala desa Dander, sebagaimana tradisi kepala desa di Jawa, biasanya para peserta (kandidat) nya adalah mereka yang secara trah memiliki hubungan dengan elit kepala desa yang lama. Hal ini tidak terlepas dari anggapan masyarakat banyak di desa-desa bahwa jabatan kepala desa adalah jabatan garis tangan keluarga-keluarga tersebut. Fenomena inilah yang biasa disebut pulung –dalam tradisi jawa- bagi keluarga-keluarga tersebut.
Jabatan kepala desa merupakan jabatan yang tidak serta merta dapat diwariskan kepada anak cucu. Mereka dipilh karena kecerdasan, etos kerja, kejujuran dan kedekatannya dengan warga desa. Kepala desa bisa diganti sebelum masa jabatannya habis, jika ia melanggar peraturan maupun norma-norma yang berlaku. Begitu pula ia bisa diganti jika ia berhalangan tetap.
Karena demikian, maka setiap orang yang memiliki dan memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan dalam perundangan dan peraturan yang berlaku, bisa mengajukan diri untuk mendaftar menjadi kandidat kepala desa. Fenomena ini juga terjadi pada pemilihan desa Dander pada tahun 2008. Pada pilihan kepala desa ini partisipasi masyarakat sangat tinggi, yakni hampir 95%. Tercatat ada dua kandidat kepala desa pada waktu itu yang mengikuti pemilihan kepala desa. Pilihan kepala Desa bagi warga masyarakat Desa Dander seperti acara perayaan desa.
Pada bulan Juli dan Nopember 2008 ini masyarakat juga dilibatkan dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur putaran I dan II secara langsung. Walaupun tingkat partisipasinya lebih rendah dari pada pilihan kepala Desa, namun hampir 70% daftar pemilih tetap, memberikan hak pilihnya. Ini adalah proggres demokrasi yang cukup signifikan di desa Dander.
Setelah proses-proses politik selesai, situasi desa kembali berjalan normal. Hiruk pikuk warga dalam pesta demokrasi desa berakhir dengan kembalinya kehidupan sebagaimana awal mulanya. Masyarakat tidak terus menerus terjebak dalam sekat-sekat kelompok pilihannya. Hal ini ditandai dengan kehidupan yang penuh tolong menolong maupun gotong royong.
Walaupun pola kepemimpinan ada di Kepala Desa namun mekanisme pengambilan keputusan selalu ada pelibatan masyarakat baik lewat lembaga resmi desa seperti Badan Perwakilan Desa maupun lewat masyarakat langsung. Dengan demikian terlihat bahwa pola kepemimpinan di Wilayah Desa Dander mengedepankan pola kepemimpinan yang demokratis.
Berdasarkan deskripsi beberapa fakta di atas, dapat dipahami bahwa Desa Dander mempunyai dinamika politik lokal yang bagus. Hal ini terlihat baik dari segi pola kepemimpinan, mekanisme pemilihan kepemimpinan, sampai dengan partisipasi masyarakat dalam menerapkan sistem politik demokratis ke dalam kehidupan politik lokal. Tetapi terhadap minat politik daerah dan nasional terlihat masih kurang antusias. Hal ini dapat dimengerti dikarenakan dinamika politik nasional dalam kehidupan keseharian masyarakat Desa Dander kurang mempunyai greget, terutama yang berkaitan dengan permasalahan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat secara langsung.
Berkaitan dengan letaknya yang berada diperbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah suasana budaya masyarakat Jawa sangat terasa di Desa Dander. Dalam hal kegiatan agama Islam misalnya, suasananya sangat dipengaruhi oleh aspek budaya dan sosial Jawa. Hal ini tergambar dari dipakainya kalender Jawa/ Islam, masih adanya budaya nyadran, slametan, tahlilan, mithoni, dan lainnya, yang semuanya merefleksikan sisi-sisi akulturasi budaya Islam dan Jawa.
Dengan semakin terbukanya masyarakat terhadap arus informasi, hal-hal lama ini mulai mendapat respon dan tafsir balik dari masyarakat. Hal ini menandai babak baru dinamika sosial dan budaya, sekaligus tantangan baru bersama masyarakat Desa Dander. Dalam rangka merespon tradisi lama ini telah mewabah dan menjamur kelembagaan sosial, politik, agama, dan budaya di Desa Dander. Tentunya hal ini membutuhkan kearifan tersendiri, sebab walaupun secara budaya berlembaga dan berorganisasi adalah baik tetapi secara sosiologis ia akan beresiko menghadirkan kerawanan dan konflik sosial.
Dalam catatan sejarah, selama ini belum pernah terjadi bencana alam dan sosial yang cukup berarti di Desa Dander. Isu-isu terkait tema ini, seperti kemiskinan dan bencana alam, tidak sampai pada titik kronis yang membahayakan masyarakat dan sosial.

Keadaan Ekonomi
Tingkat pendapatan rata-rata penduduk Desa Dander Rp. 600.000,- sampai 900.000,- Secara umum mata pencaharian warga masyarakat Desa Dander dapat teridentifikasi ke dalam beberapa sektor yaitu pertanian, jasa/perdagangan, industri dan lain-lain. Berdasarkan data yang ada, masyarakat yang bekerja di sektor pertanian berjumlah 1.114 orang, yang bekerja disektor jasa berjumlah 300 orang, yang bekerja di sektor industri 125 orang, dan bekerja di sektor lain-lain 2.125 orang. Dengan demikian jumlah penduduk yang mempunyai mata pencaharian berjumlah 3.794 orang. Berikut ini adalah tabel jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian.

Tabel 3
Mata Pencaharian dan Jumlahnya

No
Mata Pencaharian
Jumlah
Prosentase
1
Pertanian
1.114 orang
30,4 %
2
Jasa/ Perdagangan
1.Jasa Pemerintahan
2. Jasa Perdagangan
3. Jasa Angkutan
4. Jasa Ketrampilan
5. Jasa lainnya

213 orang
87 orang
20 orang
23 orang
13 orang

5,8 %
2,4 %
0,5 %
0,6 %
0,4 %
3
Sektor Industri
65 orang
1,8 %
4
Sektor lain
2.125 orang
58,1 %
Jumlah
3.660 orang
100 %

Dengan melihat data di atas maka angka pengangguran di Desa Dander masih cukup rendah. Berdasarkan data lain dinyatakan bahwa jumlah penduduk usia 20-55 yang belum bekerja berjumlah 134 orang dari jumlah angkatan kerja sekitar 3.794 orang. Angka-angka inilah yang merupakan kisaran angka pengangguran di Desa Dander.

KONDISI PEMERINTAHAN DESA

PEMBAGIAN WILAYAH DESA
Wilayah Desa Dander terdiri dari 3 Dusun yaitu : Dander, Jepar dan Nemon, yang masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Dusun. Posisi Kasun menjadi sangat strategis seiring banyaknya limpahan tugas Desa kepada aparat ini. Dalam rangka memaksimalkan fungsi pelayanan terhadap masyarakat di Desa Dander, dari ketiga dusun tersebut terbagi menjadi 4 Rukun Warga (RW) dan 40 Rukun Tetangga (RT).

STRUKTUR ORGANISASI PEMERINTAH DESA
Keberadaan Rukun Tetangga (RT) sebagai bagian dari satuan wilayah pemerintahan Desa Dander memiliki fungsi yang sangat berarti terhadap pelayanan kepentingan masyarakat wilayah tersebut, terutama terkait hubungannya dengan pemerintahan pada level di atasnya. Dari kumpulan Rukun Tetangga inilah sebuah Padukuhan (Rukun Warga; RW) terbentuk.
Sebagai sebuah desa, sudah tentu struktur kepemimpinan Desa Dander tidak bisa lepas dari strukur administratif pemerintahan pada level di atasnya. Hal ini dapat dilihat dalam bagan berikut ini:


Tabel 1
Nama Pejabat Pemerintah Desa Dander

No
Nama
Jabatan
Keterangan
1
Kiswoyo,
Bojonegoro, 24-06-1961
Kepala Desa
2
Wardoyo
Sekretaris Desa
3
Ardi Sanjaya
Kaur Pemerintahan
4
Moch. Fatkun
Kaur Kesra
5
M. Ali Mochkarom
Kaur Umum
6
Amanaturrohmah
Kaur Pembangunan
7
Dwi Febri Lestari
Kaur Keuangan
8
Sutarko
Kasun Dander
9
Tarnoto
Kasun Jepar
10
Didik Windiono
Kasun Nemon

11
Pundartiningsih
Karyawan Desa

12
Pujiono
Karyawan Desa

 
Tabel 2
Nama Badan Permusyawaratan Desa Dander
Periode 2013 - 2019

No
Nama
Jabatan
1
Darmaji
Ketua
2
Djarus
Wakil Ketua
3
Masruhin
Sekretaris
4
Sriyatun
Anggota
5
Suhadi
Anggota
6
Imam Suyuti
Anggota
7
M. Hary Mulyadi
Anggota
8
Syarif Hidayatulloh
Anggota
9
Lasir
Anggota
10
Kustitanto
Anggota
11
Tri Karyawanto
Anggota


Tabel 3
Nama-nama LPMD Desa Dander

No
Nama
Jabatan
1
Ujud W.J.
Ketua
2
Luky Sanjaya
Sekretaris
3
Sutiono
Bendahara
4
Sujitno
Anggota
5
Muhadi
Anggota
6
Nyaimin
Anggota
7
Rusmiati
Anggota
8
Sugiyono
Anggota

Tabel 4
Pengurus Karangtaruna Desa Dander

No
Nama
Jabatan
1
Sugiyono
Ketua
2
Sigit Hari Yuwono
Sekretaris
3
Mareta Yesi
Bendahara
4
Dwi Muji
Anggota
5
Didik
Anggota
6
Luky Sanjaya
Anggota
7
Mujalis
Anggota
8
Zaenul
Anggota
9
Juli
Anggota
10
Hudi
Anggota
11
Hudisantoso
Anggota

Tabel 5
Tim Penggerak PKK Desa Dander

No
Nama
Jabatan
1
Sri Murti'in
Ketua
2
WD. Anaria
Sekretaris
3
Sriatun
Bendahara
4
Harti
Anggota
5
Naning
Anggota
6
Endang Asih
Anggota
7
Sri’ah
Anggota
8
Munasih
Anggota
9
Jaitun
Anggota
10
Pundarti
Anggota

Secara umum pelayanan pemerintahan Desa Dander kepada masyarakat cukup memuaskan dan kelembagaan berjalan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.

Daftar Nama Masjid, Musholla dan Kiai di Desa Dander

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar